Teks bahasa, wicara dan discourse yang mengandung

Teks media dikatakan sangat penting karena mengandung
mitos dan ideologi, hal ini sangat jelas dikatakan oleh Grossberg dan Hall. Dan
menurut saya memang hal ini sangatlah benar, karena kita melihat diberbagai
tempat atau bahkan dimanapun kita berada pasti kita selalui menemui berbagai teks
baik yang disajikan melalui berbagai media. Dalam teks tersebut pastinya mengandung
makna tertentu, baik itu berupa ideologi maupun mitos. Teks tidak hanya berupa
tulisan, namun teks dapaat pula berupagambar, suara, citra, dsb.Seperti yang dikatakan Eriyanto (1993) dalam bukunya
bahwa teks ialah bentuk pengaplikasian bahasa, ideologi, kata, tulisan dan
struktur gramatika yang mengandung makna ideologi sendiri yang bertujuan untuk
mendapatkan dukungan publik sebanyak-banyaknya. Dari penjelasan ini dapat
dikatakan jika media merupakan tempat ideologi di representasikan, jadi
ideologi yang disampaikan dalam bentuk teks yang disampaikan melalui media,
dapat direpresentasikan dengan menghasilkan berbagai ideologi yang disampaikan
oleh masyarakat yang melihat atau memaknakan teks tersebut. Sedangkan, Mitos merupakan segala sesuatu yang
berhubungan dengan kepercayaan masyarakat akan berbagai hal, artinya tidak
hanya berfokus kepada satu aspek saja. Namun, mitos ini mencakup alam semesta
dan berbagai gejala sisoal yang ada dan terjadi. Mitos ini hadir
ditengah-tengah masyarakat karena berasal dari kesepakatan masyarakat setempat
untuk mempercayai hal tersebut. Mitos ini juga merupakan bagian dari budaya,
karena mitos yang telah dipercayai oleh masyarakat secara turun menurun itu
akan menjadi bagian dari sebuah budaya yang biasanya disajikan dalam bentuk
cerita, kisah, serta bentuk lainnya yang berisikan berbagai kode dan aturan
yang dikonstruksi dengan menggunakan bahasa yang dapat membuat masyarakat
menyepakati hal itu tanpa mereka sadari. Hal ini sama yang telah dikemukakan
Barthes (1972) bahwa mitos adalah sebuah sistem komunikasi yang berbentuk
bahasa, wicara dan discourse yang
mengandung pesan serta kode.Sedangkan, Karl Max berpendapat bahwa mitos merupakan
suatu hal yang natural dijadikan suatu budaya oleh masyarakat yang mempercayai
hal tersebut atau sebaliknya. Pendapat Karl Marx ini didukung dengan pendapat
Karl Max mengenai agama, dimana Karl Marx menjelaskan jika, Agama di percayai
oleh masyarakat itu hanya semata-mata untuk dijadikan alat oleh kalangan atas
untuk menindas kalangan yang ada dibawahnya. Selain itu, Karl Max juga
berpendapat jika, agama hanya memanipulasi masyarakat dengan berbagai
janji-janji palsu yang diberisikan harapan-harapan mengenai kehidupan dimasa
depan yang kekal dan hakiki. Artinya Karl Max dalam hal ini menggambarkan
realitas yang sebenarnya yang tidak sesuai dengan realitas sosial yang
diketahui oleh masyarakat.Sedangkan Antonio Gramsei menjelaskan mengenai mitos dengan menggunakan teori
hegemoni, dimana dalam teori tersebut, Antonio
Gramsei memperluas mengenai pendapat Karl Max. Antonio
Gramsei berpendapat jika hegemoni mencakup peran kelompok
kapitalis yang berusaha untuk merebut serta mempertahankan kekuasaan yang telah
di dapatkan (Simon, 2004). Hegomoni merupakan suatu hal yang berusaha
menjelaskan mengenai hubungan suatu kelas dengan kekuatan sosial. Kelas sosial
ini didapatkan setelah mendapatkan penyetujuan dari kelas sosial lain. Selain
penyetujuan, kelas ssosial ini  juga
dapat terbentuk ketika mereka memiliki kekuatan untuk membuat serta
mempertahankan hal tersebut. Hal ini didapatkan dengan cara membuat suatu
aliansi yang dapat dipertahankan melallui ideologi serta perjuangan politik
(Simon, 2004). Jadi, inti dari pemikiran Antonio
Gramsei ialah untuk mendapatkan kekuasaan bukan dengan
memperalat sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas, namun untuk mendaptkan
kekuasan yang sangat penting dimiliki ialah moral dan intelektual (Faruk, 1999)Berbeda dengan Karl Max dan Antonio
Gramsei, Louis Althusser menjelaskan mengenai mitos melalui Kitab yang
menjelaskan mengenai proses penciptaan. 
Dimana dalam proses penciptaan itu telah terjadi penghapusan alienasi
pekerja.  Menurut  Louis Althusser, untuk menghilangkan alienasi pekerja dari pekerjaannya
ini ialah  dengan mengurangi mitos dalam
perekonomian dan menjelaskannya dengan menggunakan metode saintifik. Hal ini
menunjukkan jika Louis Althusser menggap jika Aliensi pekerja adalah suatu hal yang
natural. Dari penjelasannya ini, Louis Althusser mengakui jika masih terdapat berbagai kekurangan,
sehingga Louis Althusser kembali membuka peluang mengenai mitos, karena
menurutnya dengan adanya mitos maka hal ini dapat membuat temuan baru mengani
alienasi yang alami.Dari Ketiga Ahli diatas dapat disimpulkan bahwa ketiga pendapat yang dijelaskan
tidak ada satupun yang sama, terlihat dalam penjelasan yaang diberikan Karl
Marx yang lebih mengarah ke agama karena ia menjelaskan dari sisi komunis,
sedangkan Antonio Gramsei dia lebih menjelaskan dari sisi  liberal, dan Louis Althusser menjelaskan mitos
dengan secara strukturalis.

Contoh Teks yang Mengandung Mitos

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Google

Menurut saya, kalimat yang terdapat dalam artikel diatas
dapat dijadikan sebagai contoh dari ideologi, sesuai dengan yang dijelaskan
oleh Karl Marx, namun judul artikel ini pula dapat masuk ke Pendapat Louis
Althusser. Karena dalam artikel ini jika kita melihat dari sisi Karl Marx yang
lebih menjelakan mengenai interaksi tuhan dan manusia, dimana orang mempercayai
kalimat “Sedekah : investasi dunia dan akhirat” setelah mereka membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an sendiri merupakan Kitab yang dipercayai oleh umat Muslim untuk
dijadikan pedoman hidup, jadi segala sesuatunya mereka berprilaku sesuai dengan
isi Al-Qur’an, melalui Al-Qur’an tersebut mereka melakukan interaksi dengan
tuhannya, sehingga tanpa sadar mereka percaya akan semua hal yang dimuat dalam
Al-Qur’an tersebut. Sedangkan, jika kita melihat dari sisi Louis Althusser.
Maka teks tersebut dipercayai oleh masyarakat karena sangat banyak ustaz
ataupun ustazha yang membawakan dakwah ataupun ceramah tentang hal itu. Dimana
ustaz ataupun ustazha dipercayai oleh umat islam sebagai ahli dari agama
mereka, artinya ustaz ataupun ustazha memiliki wawasan luas dan memahami agama
mereka secara mendalam sehingga secara tidak sadar posisi ustaz ataupun
ustazhaini yang ditinggikan oleh umat islam memiliki kekuasaan untuk mudahh
mempengaruhi seluruh umat islam didunia.

 

Menurut Stanley (2002) moral panic
adalah konsep dimana masyarakat takut akan hadirnya  sekelompok orang yang mengancam nilai yang
berlaku dilingkungannya. Namun kita sering mengartikan jika Moral panic merupakan suatu hal yang
muncul, kerena disebabkan oleh adanya kebebasan media dalam memuat informasi. Sedangkan
media saat ini sudah dijadikan sebagai kebutuhan primer bagi setiap individu
dalam mendapatkan berbagai informasi. Namun, informasi yang terdapat di media
sangatlah beragam dan memiliki banyak efek terhadap kehidupan manusia.McQuail dalam Five Types of Communicative Power (McQuail
D, 2010) menjelaskan mengenai berbagai tipe dan pengaruh media dalam proses
komunikasi.

By way of Informan. Dalam
tipe ini menjelaskan bagaimana medium memiliki peran dalam proses komunikasi.Stimulating into action. Tipe ini berusaha menjelaskan bagaimana peran media dalam mempengaruhi
perilaku tertentu dari penggunanya, baik itu mempengaruhi pada kognisi, afeksi,
ataupun behaviour.Directing attention differently. Tipe ini mejelaskan bagaimana media menggunakan
penekanan penekanan untuk mengarahkan pengguna media kepada suatu objek
tertentu.Persuation. Persuasi
merupakan salah satu istilah yang memiliki arti membujuk bahkan menarik
perhatian akan suatu hal. Dalam membujuk seseorang, kita tidak menggunakan
ancaman ataupun paksaan (Gojhali, 2010). Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan
Burgon dan Huffner, persuasi dijadikan sebagai proses untuk mencapai tujuan
komunikator dalam mempengaruhi pemikiran dan pendapat pendengarnya.Defining Situation and Framing Reality. Artinye tipe ini menjelaskan bagaimana media mengolah
serta mengkonstruksi berbagai informasi yang ada, yang didasarkan oleh
sipembuat informasi tersebut (Entman, Rober. 1993).

Berdasar dengan penjelasan diatas maka media yang bertujuan
untuk mempengaruhi penggunanya merupakan salah satu penyebab munculnya moral panic. Terbentuknya  moral panic pada masyarakat membuat media
memiliki pengaruh besar dalam hal kehidupan masyarakat, terutama pada setiap
tingkah laku masyarakat. Tingkah laku masyarakat yang sering kita temui ialah
kekerasan. Dimana menurut sebagian masyarakat berbagai kekerasan timbul
disebabkan oleh berbagai tayangan-tayangan ataupun konsep teks yang
menggambarkan kekerasan tersebut, sehingga ditiru oleh berbagai penggunanya. Hal
ini terutama terjadi bagi anak-anak yang memiliki uasia di bawah umur. Mengapa demikian?
Karena kebanyakan anak dibawah umur masih minim akan pengetahuan sehingga
mereka sangat mudah untuk dipengaruhi. Sehingga kebanyakan kekerasan terjadi
itu dilakukan oleh anak yang berusia dibawah umur. Hal ini merupakan salah satu
contoh moral panic yang timbul kepada
setiap orang tua yang anaknya telah dipengaruhi oleh hadirnya suatu media. Kejadian
ini dapat terjadi karena banyaknya media sekarang yang menampilkan berbagai
informasi, berita, ataupun tayangan-tayangan yang telah dikonstruksi sedemikian
rupa kemudian disajikan sesuai dengan kepentingan politik. Tentu hal ini tidak
sejalan dengan fungsi yang dimiliki oleh media itu sendiri.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk kita memikirkan
berbagai soslusi-solusi untuk mengatasi permaslahan ini. Karena efek negatif
dari media itu sendiri sudah menyentuh generasi muda yang nantinya memiliki
peran besar serta penentu kehidupan dimasa yang akan datang. Menurut saya,
solusi yang baik dalam mengatasi permasalahan ini ialah dengan memberikan
berbagai batasan-batasan kepada seluruh pemegang saham media untuk membatasi segala
konten yang ia sajikan melalui media. Dengan adanya batasan – batasan tersebut
maka mereka akan membuat konten-konten dimedia menjadi berkualitas dan memiliki
dampak positif bagi masyarakat. Selain, dapat menyejikan konten-konten menarik,
media juga dapat mengembalikan segala kepercayaan masyarakat akan segala
produk-produknya, karena kita tahu sekarang jika kebanyakan media yang hadir
ditengah tengah kita banyak didorong oleh kalangan kalangan elit politik yang
memiliki tujuan tertentu dibalik layar media tersebut. Maka dengan menyajikan
berbagai konten yang berkualitas tanpa adanya peran kalangan elit politik
dibelakang layar, maka kepercayaan masyarakat sangat mudah dimiliki kembali
oleh media. Faktranya sekarang masyarakat banyak menggap jika segala hal yang
disajikan melalui media banyak yang dipengaruhi oleh kepentingan pribadi,
sehinggi kita kenal istilah Gimmick
dan settingan. Kedua istilah ini
sering digunakan oleh pihak media untuk menarik perhatian penggunanya agar
mereka tertarik untuk menonton hal tersebut tanpa mereka sadari akan segal hal
yang ditimbul produk mereka tersebut. Selain itu, sangan penting juga untuk
kita lakukan pengedukasian kepada seluruh lapisan masyarakat secara umum, dan
secara khusus kepada masyarakat yang menjadi pengguna sekaligus pengkomsumsi
segala konten yang disajikan oleh media. Karena selama masyarakat paham akan
arti dan segal sesuatunya yang dapat ditimbulkan oleh media dan masih tetap
berpegang pada nilai-nilai tertentu yang ada dilingkungannya, maka moral panic ini tidak akan menimpahnya. Karena
mereka telah mengerti secara mendalam akan berbagai permasalahan sosial yang
ada. oleh karena itu, mereka telah mengenal berbagai masalah sosial yang ada,
sehingga dia tidak akan terkenal moral
panic ini. hal ini sesuai dengan peringatan yang dituliskan Cohlen dalam
bukunya yang berbunyi “more moral panics will
be generated and other, as yet nameless, folk devils will be created”. Dalam kalimat ini berisikan hhal yang digunakan oleh
seseorang dalam membangun moral panic, sehingga ketika telah dipahami
masyarakat akan berbagai cerita certita rakyat yang telah menjadi budaya yang
berisikan ancaman-ancaman, maka yakinlah moral panic mustahil menimpahnya.

Dan menurut saya, untuk menggunakan sensor itu merupakan
solusi yang salah karena dengan menggunakan sensor bagi setiap produk media,
justru akan lebih memiliki pengaruh besar terhadap seseorang, karena dengan
menyensor salah satu bagian dalam produk tersebut, penggunanya justru semakin
penasaran, serta curiga akan dibalik hal itu, sehingga mereka mencoba mencari
tahu hal dibalik sensor tersebut.

x

Hi!
I'm Ethel!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out